Orangtua Tidak Perlu Buru-Buru Menyekolahkan Anak
October 16, 2019

GENERASI AQIL BALIGH NAN HIJAU

(oleh : Ustadz Adriano Rusfi, Psi.)

 

Sejumlah ABG berkumpul di sudut jalan, di sebuah malam sunyi kota Bandung. Di belakang mereka ada sebuah toko swalayan modern yang biasa menjadi tempat nongkrong mereka.  Mereka mengangkangi sepeda motornya masing-masing. Lalu, komando datang dari sang kepala geng. Kotak minuman mereka buang begitu saja, karena mereka harus segera ke garis start sambil menderukan suara knalpot sekeras mungkin. Ya, dan knalpot mereka sengaja tanpa saringan, sehingga polusipun mereka tebar ke mana-mana.

Lengkap sudah : polusi sampah… polusi suara… polusi udara. Tapi, itulah mereka, para ABG : sebuah generasi remaja, generasi  cepat baligh namun telat aqil. Mereka masih jauh dari ciri para mukallaf : siap bertanggung jawah. Tagline meraka adalah : “EMANG GUE PIKIRIN…”. Ah, jangankan tanggung jawab terhadap lingkungan, bahkan tanggung jawab atas diri dan hak miliknya pun mereka belum sanggup. Mereka merusak paru-parunya dengan menantang angin malam tanpa jaket. Lalu, keesokan paginya betanya pada bundanya mejelang berangkat sekolah :

“Bunda buku pelajaranku di mana ?”

Tak bisa tidak, ciri paling signifikan dari generasi aqil-baligh adalah mukallaf : tanggung jawab dan rasa ikut bertanggung jawab. Itu dimulai dari tanggung jawab atas diri, tanggung jawab atas hak milik pribadi (property), tanggung jawab atas otoritas teritorialnya (seperti kamar pribadi), tanggung jawab kemanusiaan, hingga tanggung jawab atas alam semesta. Dan rasa tanggung jawab itu hanya akan tumbuh utuh-lengkap jika diawali dari tanggung jawab kepada Allah. Tanpa itu, maka kita hanya akan menyaksikan generasi yang mampu buang sampah pada tempatnya, tapi, maaf, buang sperma di mana-mana.

Maka, mari kita introspeksi : apakah kita telah didik anak-anak kita sebagai (calon) generasi aqil-baligh yang sebenarnya dan seutuhnya ? Jika dia sudah disiplin shalat namun belum disiplin buang sampah di tempat sampah, itu bukan ciri aqil baligh. Karena Allah memerintahkan shalat dan menjaga kebersihan sekaligus. Jangan-jangan, dia shalat bukan karena Allah, tapi karena pembiasaan di rumah dan sekolah. Kita patut mencurigai hal itu, karena seseorang yang lillahi ta’ala tak akan pernah membeda-bedakan perintah Allah.

Mari kita meneteskan air mata untuk kasus “lumrah” yang satu ini : Bahwa fiqh yang pertama kali dipelajari oleh para santri kita di berbagai pondok adalah tentang Thaharah : bersuci. Tapi apa yang kemudian terjadi : sampah bertebaran di mana-mana, kamar santri yang bagaikan kapal pecah, dan penyakit kulit adalah penyakit “wajib”. Lalu, apanya yang salah ? Yang salah adalah bahwa pondok pesantren mendidik ilmu, namun tak membangun generasi mukallaf yang mampu melihat tanggung jawab sebagai sesuatu yang kaffah.

Nah, inilah pentingnya makna aqil : BERAKAL. Sebenarnya tak sulit bagi akal untuk paham tentang pentingnya kebesihan, ketertiban, kedisiplinan, konservasi, penghijauan dan sebagainya. Tak sulit bagi akal untuk memahami dampak negatif bagi dirinya dan lingkungannya jika hal-hal di atas tak kita lakukan. Alhasil, mendidik dan membangun akal sehat akan sangat penting bagi lahirnya generasi aqil-baligh yang sekaligus berperilaku hijau. Yang kita khawatirkan adalah ketika pendidikan “agama” di rumah dan di sekolah justru digunakan untuk menindas akal sehat. Bukankah di banyak pendidikan saat ini naqli digunakan untuk membungkam aqli ? Wallahu a’lam…

Nah, ciri paling generik dan penting bagi generasi aqil-baligh adalah kemampuan untuk memikul tanggung jawab : mukallaf. Bermula dari tanggung jawab pada Allah, yang akhirnya menjelma menjadi tanggung jawab pada diri, hak milik, otoritas teritorialnya, kemanusiaan dan alam semesta.

Jadi, jika seorang anak manusia rajin shalat namun buang sampah sembarangan, tampaknya ia tak sedang dididik menjadi aqil-baligh, tapi sekadar dididik untuk terbiasa shalat. Ya, karena tanggung jawab adalah sebuah paket yang utuh : kaffah.

Inilah pentingnya mendidik aqil : berakal. Karena tak sulit bagi akal memahami pentingnya kebersihan, ketertiban, disiplin, konservasi, dan berperilaku hijau. Atau, mungkin kita justru tidak pro-aqil, karena belakangan aqli cenderung ditindas oleh naqli. Wallahu a’lam…