Sebuah Cita Ikut “mencicil” Peradaban Mulia

Mengenal Sekolahalam
October 6, 2019
Si Melankolis yang Perfectionist
October 6, 2019

Sebuah Cita Ikut “mencicil” Peradaban Mulia

TENTANG KAMI…..
Sekolah Alam Jingga Lifeschool,
Sebuah Cita Ikut “mencicil” Peradaban Mulia

 

Berawal dari sebuah TKBM berbentuk SMP Terbuka untuk memberikan kesempatan anak-anak yatim/piatu dan Dhuafa di wilayah Bekasi khususnya Bekasi Utara mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Setelah sepuluh tahun berjalan, kami memutuskan untuk semakin meningkatkan kualitas, sehingga merekrut satu demi satu tim yang kemudian menciptakan perubahan luar biasa. Hingga kemudian SMP Terbuka Jingga bermetamorfosis menjadi Sekolah Alam Jingga Lifeschool.

Ada lompatan-lompatan yang ingin kami raih hingga memilih sekolahalam, yaitu sebuah konsep dengan inti Belajar Bersama Alam dan Peng-Alam-an/Kehidupan, serta Lifeschool, yaitu Sekolah Kehidupan. Bahwa sekolah bukan lagi sekadar sekolah atau sekadar lulus sekolah lalu setelah itu menjadi beban sosial karena kembali tidak melanjutkan sekolah. Tapi lebih dari itu, sekolah menjadi kawah candradimuka pembentuk generasi aqil baligh yang beradab.

Labelisasi dengan kata-kata “Yatim/Dhuafa”, “Tidak Mampu”, “Miskin”, “Gratis”, dll. membuat mindset, sikap dan mental masyarakat sulit untuk “move on” dari level mereka. Walau secara kemampuan bisa jadi mereka memiliki potensi yang luar biasa.

Maka, dengan misi “menuju kemandirian & keberdayaan tahun 2015”, kami sepakat untuk memunculkan paradigma baru tentang “Sekolah Gratis” di Sekolah Alam Jingga Life School.

Dalam sejarah, gratis selalu memberikan efek pada sikap dan mental. Meski apapun sebenarnya juga memberikan efek pada sikap & mental di setiap lintasan peristiwa hidup. Membuka ruang toleransi yang berlebih pada istilah gratis, membuat siapapun yang menikmatinya akan terlena sepanjang hayat. Ia akan tumbuh menjadi pribadi tidak produktif, susah berkorban apalagi mau berbagi.

Gratis menjadi pintu penahan segudang potensi yang semestinya bisa dieksplorasi menjadi sebuah nilai yang bermanfaat bagi diri dan kehidupan. Kami sepakat istilah gratis, tapi gratis yang proporsional & profesional dengan beberapa pemikiran antara lain :

1. Kita bukan tidak ingin diberikan bantuan oleh orang lain, kita tetap membutuhkan bantuan orang lain, akan tetapi bukan atas dasar “rasa dikasihani” yang membekukan produktifitas dan potensi segenap civitas.

Sebagai contoh, untuk mendapatkan tambahan karpet nyaman buat sarana belajar anak-anak di jingga, bisa dengan saling berbagi profesional ilmu kepada orang/pihak lain, sehingga mereka menghargai keilmuan kita, dan memberikan apresiasi atas ilmu yang mereka dapat dengan memberikan karpet nyaman buat sekolah kita.

2. Ada bantuan dana yang biasanya habis terpakai, kini kita manfaatkan dalam bentuk lain yang lebih produktif dan memperkaya wawasan belajar dengan mengembangkan Proyek Kebun Hidroponik atau Jingga Halal Mart misalnya.

Apakah dana tersebut habis ketika dibelanjakan peralatan & perlengkapan Hidroponik? Secara fisik, uang tersebut habis. Akan tetapi secara investasi, bahkan ia semakin bertambah. Investasi keilmuan bertambah, investasi nilai karya bertambah, sampai pada transformasi ekonomi mengalirkan arus uang dari luar ke dalam institusi jingga pun sebagai sarana melanjutkan roda operasional kegiatan belajar mengajar di Jingga bukan mustahil akan segera terjadi.

Saat ini, Sekolah Alam Jingga Lifeschool dengan paradigma baru, tetap memberikan kesempatan yang sama bagi semua anak untuk mendapatkan pendidikan. Istilah “Sekolah Gratis” kini diganti dengan istilah “beasiswa” bagi anak-anak “Yatim/Dhuafa” yang memenuhi kriteria dan persyaratan. Itu pun secara proporsional sesuai dengan kondisi perekonomian mereka.

Mengusung “life school”, sekolah kehidupan yang ingin mendidik generasi peradaban menjadi generasi aqil baligh yang beradab. Mendidik di atas realita yang alami untuk generasi Rabbani. Menjadi kawah candradimuka bagi batu bata-batu bata peradaban.

Sekolah Alam Jingga Lifeschool memberikan kabar gembira tentang “metode-metode pendidikan baru”, “moral bersama”, “nilai-nilai kehidupan baru” dan yang terpenting adalah pola-pola “perilaku yang baru”. Sekolah Alam Jingga Lifeschool menawarkan lingkungan belajar yang positif, ramah (masa depan) anak, dan aktif (active learning).

Pendekatan yang digunakan dititikberatkan pada pembelajaran life school dengan 5 Fokus utama, yaitu : Akhlaq & Leadership; Bisnis & Talents; Lingkungan & Konservasi; Seni & Kreativitas; Logika & Akademik. Bagi yang mau berpikir, alam semesta adalah sumber pelajaran tanpa batas. Di Sekolah Alam Jingga Lifeschool, para siswa dilatih untuk dapat “membaca” kehidupan dengan cara pandang utuh, menyeluruh. Sistem pembelajaran ini akan membuat anak didik peka sekaligus terbuka dalam menyimak permasalahan dan mencari pemecahan yang total.

Dengan Belajar Bersama Alam dan Project Based Learning, diharapkan akan lahir generasi Aqil Baligh yang siap menjalani kehidupan secara mandiri. Sekolah Alam Jingga Lifeschool hadir untuk memenuhi keinginan masyarakat yang membutuhkan pendidikan peradaban karena Misi Pendidikan haruslah sejalan dengan Misi Penciptaan Manusia.

 

Maret 2013
(Ari Maryadi, ditulis ulang oleh Marsahid AS)